Minggu, April 19, 2026
No menu items!
No menu items!
BerandaHLIran Melawan,Siapa Sebenarnya yang Kehilangan Marwah?

Iran Melawan,Siapa Sebenarnya yang Kehilangan Marwah?

I

Di saat tekanan global semakin brutal dan terbuka, Iran memilih berdiri. Bukan karena ia tanpa kelemahan, tetapi karena ia menolak tunduk. Sanksi ekonomi, isolasi politik, hingga ancaman militer tidak cukup untuk memaksa Iran menyerah.

Sebaliknya, yang terjadi di banyak negara Islam justru memprihatinkan.
Bukan melawan, tetapi menyesuaikan.
Bukan berdiri tegak, tetapi mencari aman.

Kedaulatan seperti barang tawar-menawar. Prinsip mudah berubah mengikuti arah angin kekuatan besar.

Di sinilah perbedaan itu terasa telanjang.
Di bawah pengaruh pemikiran Ruhollah Khomeini, Iran membangun mentalitas yang sederhana tapi keras: lebih baik tertekan daripada kehilangan harga diri. Prinsip “tidak Timur, tidak Barat” bukan sekadar retorika politik, tetapi garis batas yang tidak bisa dinegosiasikan.
Bandingkan dengan sebagian negara Islam lain—yang bahkan untuk menentukan sikap saja harus menunggu restu kekuatan luar.

Kekayaan alam melimpah, tetapi kebijakan sering kali tidak merdeka. Populasi besar, tetapi tidak berdaya dalam menentukan arah sendiri.

Ini bukan lagi soal kemampuan.
Tapi soal keberanian, jauh sebelumnya, Soekarno sudah memberi peringatan keras: bangsa yang bergantung akan kehilangan jati diri. Berdikari bukan pilihan romantis, tetapi syarat mutlak untuk dihormati di panggung dunia.

Namun hari ini, peringatan itu seperti diabaikan. Dunia Islam terjebak dalam kenyamanan semu—aman secara jangka pendek, tetapi rapuh dalam jangka panjang. Persatuan hanya jadi slogan, sementara kepentingan sempit lebih dominan.

Lebih ironis lagi, konflik internal justru dipelihara, sementara tekanan eksternal dihadapi tanpa posisi tawar yang kuat.
Iran mungkin tidak sempurna. Sistem politiknya bisa diperdebatkan. Kebijakannya pun tidak lepas dari kritik. Tapi satu hal yang tidak bisa dibantah: mereka punya sikap.

Dan sikap itulah yang mulai langka.
Pertanyaan paling tajam yang harus dijawab dunia Islam hari ini adalah:
apakah kita masih punya harga diri sebagai bangsa-bangsa merdeka?
Atau kita sudah terlalu lama hidup dalam bayang-bayang, hingga lupa bagaimana rasanya berdiri sendiri?

Sejarah tidak mencatat mereka yang nyaman dalam ketergantungan.
Sejarah hanya mencatat mereka yang berani menolak tunduk.
Iran sudah memilih jalannya.
Sementara sebagian dunia Islam—masih sibuk mencari alasan.

Oleh Kemas Mahmud Salim,S.H.           Ketua  SMSI  MuRATARA

 

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments